Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Riuh Pikuk Pekerja PETI Datangi Mapolres Sintang, Kemana Pemerhati Tambang Ilegal ?!?

28/02/2026 | Februari 28, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-28T12:30:30Z

 


Kalbar - (UpdateKalbar.top) : Teringat Kasus Restoratif Justice antara yang di duga pelaku PETI, dengan Wartawan yang dipukul di Sungai Ayak, sekira bulan Juni 2025 silam, yang sebenarnya dapat saja berujung damai, namun karena ada se seorang mengaku pemerhati PETI dari Kabupaten Sintang yang dengan lantang memfitnah Ketua DPD AKPERSI KALBAR menerima SUAP dari Pelaku PETI.


Nah saat ini, publik sedang dihebohkan dengan kasus PETI, yang kini ditangani Mapolres Sintang dengan menangkap beberapa orang diduga pelaku PETI beberapa hari ini, yang berbuntut Aksi damai oleh diduga para pekerja PETI di Kabupaten Sintang.


Ironisnya kemana hilang nya orang yang mengaku Pemerhati PETI tersebut? Kok terkesan seperti hilang ditelan bumi! Senyap tanpa suara dan tanpa narasi apapun, yang sampai menimbulkan sejuta tanya, apakah benar dia adalah Pemerhati PETI atau backingan PETI di Kabupaten Sintang?!?


Jika benar dia adalah pemerhati PETI, pasti lah dapat dipastikan di Kabupaten Sintang tidak ada aktivitas PETI. Namun, fakta berbicara lain! 


Aktifitas PETI di Kabupaten Sintang ternyata luar biasa maraknya, tanpa ada reaksi dari Pemerhati PETI tersebut.


Narasi ini menyasar pada fenomena "Pemerhati" yang hanya muncul ketika ada kepentingan tertentu.


Fenomena "Pemerhati Musiman". Antara Integritas dan Aroma Upeti di Sektor Tambang Ilegal.


Dunia aktivisme dan pengawasan publik kini tengah diwarnai fenomena unik sekaligus menggelitik. Muncul tren baru di mana individu atau kelompok mendadak menyematkan gelar "Pemerhati Barang Ilegal", hingga "Pemerhati Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI)". 


Namun, alih-alih mengedukasi, keberadaan mereka justru kerap mengundang tanya: apakah mereka sedang menjaga alam, atau sekadar menjaga "jalur komunikasi" tetap terbuka?


Vokal Saat Sepi, Bungkam Saat "Berbagi".


Berdasarkan pantauan di lapangan, pola gerakan para oknum pemerhati ini terbilang cukup konsisten. Mereka biasanya sangat vokal menyuarakan kerusakan lingkungan dan kerugian negara saat sebuah aktivitas tambang ilegal baru dibuka.


Namun, yang menarik adalah kecepatan perubahan suaranya. 


Kritik yang tadinya menggelegar layaknya suara mesin crusher batu, tiba-tiba berubah menjadi senyap bak hutan di tengah malam, setelah adanya "diskusi tertutup" dengan para cukong.


Hal senada disampaikan oleh Asido Jamot Tua Simbolon.


"Mereka ini punya indra penciuman yang tajam. Bukan mencium bau merkuri yang merusak sungai, tapi mencium aroma pundi-pundi yang bisa dinegosiasikan," ucap nya.


Namun, yang menarik adalah kecepatan perubahan suaranya. 


"Pemerhati atau "Penagih"?


Sindiran publik pun kian gencar di media sosial. Para oknum ini dijuluki sebagai "Pemerhati Invoice", karena aktivitas pengawasan mereka dinilai hanya akan berhenti jika nominal yang diminta telah terpenuhi.


"Berikut adalah beberapa ciri Pemerhati Musiman, yang sering menjadi bahan gunjingan di warung kopi: Pertama. Rajin Memotret Alat Berat: Bukan untuk laporan ke pihak berwajib, melainkan sebagai bahan "lampiran" saat mengirim pesan singkat ke pemilik tambang. Kemudian, Update Status Lingkungan Hidup, yaitu : Hanya dilakukan jika jatah bulanan terlambat masuk. Lalu, mendadak buta, yang artinya : Bisa mendadak tidak melihat lubang galian raksasa di depan mata asalkan "administrasi" di bawah tangan sudah selesai.", tutup Edo.


Sumber : Divisi Advokasi dan Hukum DPD AKPERSI Kalbar


Team Redaksi

×
Berita Terbaru Update